Penjualan Tabung Oksigen di Apotek Bak “Kacang Goreng”

  • Whatsapp
Permintaan oksigen di apotek melonjak sejak pandemi ini. Selain tabung oksigen isi ulang, oksigen portable juga banyak diburu oleh masyarakat yang membutuhkan. Foto: Ros/prabu pos

//Untuk Isoman hingga Cadangan

PRABUMULIH – Sejak pandemi Covid 19, permintaan dan kebutuhan tabung oksigen seperti “kacang goreng”. Betapa tidak, selain di Rumah Sakit, lonjakan permintaan tabung oksigen juga terjadi di apotek dan alkes yang ada di Kota Prabumulih.

Bacaan Lainnya

Pantauan Prabumulih Pos, dibeberapa apotek stok tabung oksigen kosong. Seperti di apotek Faris, yang beralamat di Kelurahan Pasar 1 tabung oksigen justru sudah kosong sejak Februari lalu.

“Di kami tabung oksigen sudah kosong dari sebelum lebaran, bulan Februari sudah habis. Permintaan memang melonjak, karena lagi musim penyakit ada yang sesak batuk filek,” kata Prio pemilik apotek Faris.

Prio menuturkan, untuk 1 set tabung oksigen dijual Rp 925 ribu. Namun sejak permintaan meningkat harga dari pemasok pun melonjak berlipat-lipat.

 “Kalaupun ada sekarang harga tinggi, kita tidak berani ambil harga sampai 2 jutaan. Kasihan juga warga kalau harga seperti itu. Kita waktu stok masih ada, 1 set lengkap alat tetap jual harga normal,” tuturnya mengakui warga yang memburu oksigen tak hanya dari Prabumulih tapi juga dari luar kota.

Nah, selain tabung oksigen. Oksigen isi ulang juga diburu oleh warga. “Ada juga isi ulang, tapi itu terbatas dijatahi,” ucapnya menyampaikan selain oksigen vitamin serta obat penurun panas dan batuk filek juga diburu oleh masyarakat.

Kekosongan stok tabung oksigen juga terjadi di apotek alkes 3 J Medika, yang beralamat di Jalan Sudirman Kelurahan Tugu Kecil. Di apotek ini, penjualan oksigen bak kacang goreng.

Pemilik apotek alkes 3 J Media Elia menuturkan, permintaan tabung oksigen begitu deras sejak pandemi Covid 19. Sementara meski permintaan tinggi tabung oksigen yang telah diisi dan ditukar dibandrol harga normal yakni Rp 75 ribu.  “Kita cuma siap 17 tabung tukar, itu sehari bisa habis. Besoknya kita isi lagi di Palembang,” ujar Elia.

Padahal biasanya terang Elia, sebelum pandemi dalam 1 bulan hanya melakukan pengisian 3-4 kali. “Sekarang 2 atau 1 hari sudah isi lagi. Kita tidak tega kalau tidak isi, karena banyak yang cari kasian kalau ada yang perlu,” ucapnya.

Menurut Elia, tingginya permintaan oksigen dikarenakan banyak warga yang menderita penyakit sesak, dan tengah melakukan isolasi mandiri (isoman). “Yang cari ada juga untuk yang isoman, ada juga yang memang butuh karena sakit sudah tua jadi sesak,” tuturnya.

Selain tabung oksigen isi ulang. Oxican yang merupakan oksigen portable juga menjadi barang yang banyak diburu oleh masyarakat. “Oksigen portable juga banyak dicari, tapi itu oksigennya tidak lama hanya untuk pertolongan pertama,” tukasnya mengatakan harga oksigen portable sebelumnya Rp 85 ribu saat ini sudah naik menjadi Rp 150 ribu.

Pantauan koran ini, sejumlah warga yang membutuhkan oksigen terlihat kecele saat mendatangi apotek. “Sudah tanya (di apotek) kosong, kita butuh untuk cadangan. Orang tua sakit, lagi butuh oksigen karena sesak (bukan karena covid) di rumah sakit lagi kehabisan,” ungkap Rudi warga Kelurahan Muara Dua, yang berlalu sembari membawa tabung oksigen.

Hal sama dialami Herman, warga pendopo kabupaten Pali. Sembari menenteng tabung oksigen kosong, Herman yang mencari oksigen untuk bidan praktek harus berkeliling kesejumlah apotek. “Ini untuk bidan praktek, sekarang pasien ini banyak ung sesak, jadi kebutuhan oksigen meningkat. Akan keliling cari lagi, di sini (apotek Faris) kosong,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur RSUD dr Hj Hesti W MM menyampaikan, RS selalu berupaya untuk memenuhi kebutuhan oksigen bagi pasien.  “Pasien ada juga dari luar, tapi prioritas dari Prabumulih,” pungkasnya.(08)

Pos terkait